Monotoneminimal.com – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, menekankan pentingnya penguatan intensifikasi pertanian sebagai strategi utama untuk mencegah krisis pangan yang mungkin terjadi akibat perubahan iklim dan dinamika geopolitik global. Dalam rapat kerja dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Selasa, ia menyarankan agar perhatian lebih diperuntukkan pada peningkatan frekuensi tanam daripada perluasan lahan pertanian yang membutuhkan investasi tinggi.
Titiek mengatakan, untuk meningkatkan produksi pertanian, langkah intensifikasi seperti meningkatkan frekuensi tanam menjadi dua atau tiga kali dalam setahun lebih efisien daripada membuka lahan baru. Ia menjelaskan bahwa dengan metode ini, hasil pertanian dapat meningkat tanpa memerlukan biaya besar.
Ketersediaan air juga menjadi fokus utama, terutama menghadapi potensi kemarau akibat fenomena El Nino. Untuk itu, Titiek mendorong peningkatan bantuan pompa air dan perbaikan saluran irigasi agar ketahanan pangan tetap terjaga. Ia juga mengungkapkan keprihatinan terhadap krisis global yang mungkin mempengaruhi keamanan pangan nasional, terutama ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta dampak penutupan Selat Hormuz yang bisa meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertanian Amran memastikan bahwa stok cadangan beras nasional sebesar 4,6 juta ton dalam kondisi aman untuk menghadapi tantangan ini, mencatatkan jumlah tertinggi dalam sejarah pengelolaan stok pangan di Indonesia. Amran menjelaskan bahwa stok pangan mencukupi, memberikan rasa aman bagi masyarakat menghadapi krisis global serta cuaca ekstrem.