Monotoneminimal.com – Mantan Jenderal Mark Kimmitt, yang sebelumnya menjabat sebagai komandan CENTCOM AS, mengingatkan bahwa risiko “kesalahan perhitungan” dari militer Iran dapat memicu kembali konflik. Dalam pandangannya, situasi ini tidak hanya berpotensi memulai pertempuran baru, tetapi juga membawa konsekuensi yang lebih parah dibandingkan dengan konflik sebelumnya.
Kimmitt menjelaskan bahwa militer AS memiliki struktur komando yang “sangat terpusat”, sementara pasukan Garda Revolusi Iran memberi wewenang yang lebih besar kepada perwira berpangkat rendah. Ia memberikan contoh ekstrem di mana seorang komandan dari tingkat rendah dapat mengambil keputusan sepihak, seperti berupaya menghancurkan kapal AS. Jika insiden itu menyebabkan korban jiwa yang signifikan, hal tersebut bisa mengakibatkan eskalasi pertempuran yang lebih serius.
Di sisi lain, Mohammed Elmasry, seorang profesor di Institut Studi Pascasarjana Doha, menyatakan bahwa langkah-langkah yang diambil AS tampaknya ditujukan untuk “mengintimidasi” Iran agar menyerah. Ini terlihat jelas dari daftar 15 poin yang disusun oleh Washington untuk mengakhiri perang, yang mencakup tuntutan penghapusan fasilitas nuklir serta penghentian program rudal balistik Iran. Elmasry menekankan bahwa beberapa tuntutan tersebut dianggap “tidak dapat diterima” oleh Iran, karena melanggar garis merah mereka.
Elmasry juga menyatakan pentingnya dialog berkelanjutan antara kedua belah pihak. Ia menyebutkan bahwa pertemuan yang berlangsung sekitar 20 jam di Islamabad menunjukkan betapa pentingnya komunikasi langsung untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas, seperti dalam negosiasi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) yang dilakukan dalam waktu yang lebih lama.