Monotoneminimal.com – Acara maulid di GOMISHAN, sebuah kota kecil di Bandar Turkaman, Iran, memberikan wawasan mendalam tentang kerinduan spiritual yang menghubungkan umat manusia. Dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya adalah suku Turkaman pengikut Ahlusunah, perayaan ini berlangsung usai Isya dan menyatukan ribuan jiwa meski terpisah oleh bahasa dan budaya.
Selama acara, seorang perempuan bernama Atefeh berfungsi sebagai penerjemah, membagikan makna dari puji-pujian yang dilantunkan. Kerinduan yang terungkap dalam setiap lirik menciptakan kedekatan emosional yang nyata, membawa semua peserta dalam satu ikatan rasa, meski berasal dari latar belakang yang berbeda. Kenangan akan masa kecil penulis, ketika mengikuti acara serupa di kampungnya, menggugah kesadaran akan benang merah cinta kepada Nabi Muhammad yang menghubungkan semua orang.
Pertanyaan muncul: Apa yang membuat kerinduan ini melampaui waktu dan ruang? Sosok Nabi, yang mengenalkan cinta dan pengabdian kepada sesama, menjadi jawabannya. Rumi, seorang penyair sufi legendaris, menegaskan hal ini dalam karyanya dengan menunjukkan bahwa Nabi adalah pusat dari cinta dan kebaikan, yang tak henti-hentinya menginspirasi umatnya.
Acara maulid di Iran tidak hanya sekadar ritual, melainkan pengingat akan pentingnya empati, perhatian kepada sesama, dan semangat untuk berbuat baik. Rumi mengajarkan bahwa cinta kepada Nabi harus terwujud dalam tindakan nyata, menjangkau mereka yang sedang membutuhkan. Dengan sikap ini, perayaan maulid pada akhirnya menjadi momen refleksi dan penyatuan umat dalam kemanusiaan yang lebih luas.