Monotoneminimal.com – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menekankan pentingnya selektivitas dalam memilih saham perbankan, terutama di tengah tekanan jual dari investor asing dan pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini disampaikan oleh Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam keterangan pers di Jakarta.
Menurut Rully, meski dukungan dari pembelian domestik telah membantu menyerap arus keluar investasi asing, meningkatnya tekanan jual menimbulkan keraguan tentang keberlanjutan dukungan ini. Ia menekankan bahwa arus dana asing dan stabilitas rupiah merupakan faktor penting yang akan menentukan kemampuan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam mempertahankan pemulihannya.
Terkait dengan kondisi pasar, Mirae Asset menyajikan analisis mengenai fundamental sektor perbankan. Pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat melambat menjadi 12,7 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) meningkat menjadi 8,2 persen. Meskipun total DPK mencapai Rp9.896 triliun, peningkatan ini juga disertai dengan kenaikan biaya dana, yang dapat mempengaruhi margin bunga bersih (NIM) perbankan ke depan.
Research Analyst Muhammad Nurkholis Syafruddin juga menyoroti penurunan rasio loan-to-deposit (LDR) yang kini berada di angka 91,7 persen. Ia menganggap penurunan ini sebagai kelonggaran sementara dan bukan indikasi perbaikan likuiditas yang mendasar. Suku bunga deposito juga mengalami kenaikan, dengan tenor satu bulan mencapai 5,3 persen dan tiga bulan 5,9 persen.
Dalam situasi pasar yang volatil ini, Mirae Asset mengingatkan investor untuk memperhatikan arus dana asing, stabilitas rupiah, dan kemampuan bank dalam mengelola likuiditas serta biaya pendanaan untuk menentukan strategi investasi yang tepat.