Monotoneminimal.com – Nama Dino Patti Djalal kembali mencuri perhatian publik setelah mengemukakan kritik terhadap frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Mantan diplomat senior yang juga pendiri Foreign Policy Community of Indonesia ini menyarankan agar Presiden lebih selektif dalam melakukan perjalanan diplomatik untuk menjaga efisiensi anggaran negara.
Dalam video yang diunggahnya pada 30 Mei 2026, Dino menyebutkan bahwa selama menjabat, Presiden Prabowo telah menghabiskan “1 dari 6 hari” di luar negeri. Menurutnya, frekuensi kunjungan tersebut dapat menimbulkan biaya besar, mencakup logistik penerbangan, pengawasan keamanan, dan uang harian bagi delegasi. Dino memberikan lima rekomendasi strategis, termasuk penggunaan teknologi komunikasi seperti video call dan pelimpahan beberapa misi diplomatik kepada Menteri Luar Negeri.
Kritik tersebut mendapat tanggapan dari Istana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kunjungan presiden sangat penting di tengah krisis global untuk membangun hubungan antar-pemimpin secara langsung. Ia menegaskan bahwa biaya perjalanan yang melebihi anggaran ditanggung oleh Presiden, dan ukuran rombongan telah dikurangi secara substansial.
Dino Patti Djalal merupakan sosok yang berpengalaman dalam bidang diplomasi. Lahir di Belgrade pada 10 September 1965, ia memulai karir di Departemen Luar Negeri pada 1987 dan pernah menjabat di berbagai posisi strategis. Ia dikenal luas sebagai Juru Bicara Presiden untuk urusan luar negeri di era Susilo Bambang Yudhoyono dan pernah menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.
Sejak 2015, ia mendirikan FPCI, yang menjadi platform diskusi kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia. Melalui organisasi tersebut, Dino aktif mendorong partisipasi masyarakat dan generasi muda dalam isu internasional, sehingga menjadikannya salah satu figur berpengaruh dalam kebijakan luar negeri Indonesia.