Monotoneminimal.com – Nilai moral universal menjadi perdebatan di kalangan filsuf dan etika, terutama dalam disiplin ilmu komunikasi. Profesor Clifford G. Christians dari University of Illinois mengeluarkan konsep proto-norm yang menyatakan bahwa nilai-nilai moral mendasar harus menjadi dasar komunikasi yang etis. Salah satu nilai tersebut adalah Sacredness of Life, yaitu keyakinan bahwa martabat setiap manusia patut dihormati.
Di era media sosial saat ini, prinsip ini menghadapi tantangan serius. Komentar-komentar tanpa filter kerap merendahkan martabat individu, seperti yang terjadi pada seorang perempuan lanjut usia yang sedang siaran langsung untuk berjualan. Ia menerima berbagai komentar negatif, termasuk yang paling mengejutkan berbunyi, “Nenek kapan mati?” Komentar tersebut tidak hanya menunjukkan rendahnya etika berbahasa di dunia maya, tetapi juga mencerminkan perubahan komunikasi yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.
Dari sudut pandang etika komunikasi, penghinaan tersebut melanggar prinsip dasar yang seharusnya dijunjung tinggi. Saat pesan yang disampaikan merendahkan keberadaan seseorang, tindakan itu melampaui ketidaksopanan dan menjadi pelanggaran etika.
Sebagai tambahan, Richard L. Johannesen, profesor ilmu komunikasi dari Northern Illinois University, menekankan pentingnya komunikasi yang mendukung kemampuan individu untuk berpikir dan membuat keputusan secara bebas dan bertanggung jawab. Dengan demikian, menjaga etika dalam komunikasi adalah tantangan yang semakin krusial dalam interaksi digital kontemporer, mengingat dampaknya terhadap martabat dan nilai kehidupan manusia.