Monotoneminimal.com – Usaha yang dirintis oleh Ny. Ely Dewa di Provinsi Bengkulu menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan ekonomi skala kecil dapat mendorong produktivitas masyarakat dan mencapai kemandirian finansial. Dalam konteks perkembangan industri kreatif berbasis budaya lokal, pelaku usaha mikro semakin menyadari potensi daerah sebagai sumber peluang ekonomi.
Industri kreatif yang berpijak pada kultur lokal tidak hanya menghasilkan produk bernilai jual, tetapi juga membuka peluang partisipasi masyarakat dalam proses ekonomi dan kreatif. Salah satu sektor yang mengalami kemajuan pesat adalah kerajinan batik, yang kini berkembang di berbagai daerah dengan ciri khas masing-masing.
Di Bengkulu, batik menjadi bagian penting dari pelestarian budaya dan penguatan identitas daerah melalui pengembangan motif lokal. Kabupaten Rejang Lebong, misalnya, memiliki potensi yang kaya dengan batik berbasis Aksara Kaganga, yang memiliki nilai sejarah mendalam. Aksara ini, yang merupakan simbol tradisional Suku Rejang, masih digunakan oleh masyarakat di beberapa kabupaten di provinsi tersebut.
Kaganga, dikenal sebagai salah satu aksara tertua di Sumatera bagian selatan, kini tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi zaman dahulu, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya yang dijaga oleh komunitas lokal. Badan Musyawarah Adat (BMA) di Rejang Lebong mencatat bahwa sejumlah aksara lokal lainnya juga dipertahankan oleh suku-suku pribumi di Sumatera.
Sejarah mencatat penggunaan aksara ini sudah dilakukan sejak masa kolonial hingga kini, dengan penelitian yang beragam mencakup karyakarya terkenal dari beberapa peneliti. Nama Kaganga sendiri diambil dari kombinasi tiga huruf awal aksara tersebut, merupakan kesepakatan dari para pemuka adat setempat. Dengan demikian, usaha Ny. Ely Dewa dan industri batik di Bengkulu berkontribusi pada pelestarian budaya dan meningkatkan ekonomi lokal.