Monotoneminimal.com – Perang yang berkepanjangan di Iran telah memicu tantangan besar bagi stabilitas ekonomi global. Serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap pemimpin Iran, Ali Khamenei, tidak berhasil menggulingkan pemerintah, bahkan justru meningkatkan ketegangan. Kini, Iran berada dalam posisi yang menguntungkan di Selat Hormuz, mengancam pasokan minyak dunia dan memperparah ketidakstabilan di Timur Tengah.
Dua minggu pasca serangan tersebut, analisis menunjukkan bahwa Iran kini memiliki banyak kartu truf, termasuk kemampuan untuk memotong pasokan minyak dan menyerang sekutu-sekutu AS. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negara mereka telah belajar dari kekalahan AS di wilayah tersebut dan telah mempersiapkan diri dengan baik.
Dalam konteks ini, beberapa strategi untuk mengakhiri konflik telah diusulkan. Pertama, menghentikan pemimpin Iran secara terus-menerus dianggap tidak efektif dalam perang antar negara. Doktrin pertahanan yang terdesentralisasi memungkinkan Iran untuk menghadapi serangan tanpa kehilangan banyak kekuatan. Ini membuktikan bahwa meskipun kehilangan pemimpin senior, struktur pemerintahan masih utuh.
Selanjutnya, Iran menerapkan suatu “strategi tiga bagian”: memastikan kelangsungan hidup, mempertahankan kemampuan untuk membalas, dan memperpanjang konflik sesuai kehendak mereka. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi pemerintahan AS dalam merespons, karena perang tersebut tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga sekutu-sekutu mereka.
Perkembangan terakhir mengindikasikan bahwa Iran menggunakan rudal dan drone untuk menyerang kawasan-kawasan strategis, memperluas dampak konfliknya hingga ke seluruh Timur Tengah. Lonjakan harga minyak dan gasoline juga menjadi masalah global, menyusul ketidakpastian yang diakibatkan oleh konflik ini.