Monotoneminimal.com – Sifat tamak atau serakah telah diidentifikasi sebagai penyakit hati yang dapat memicu berbagai persoalan dalam kehidupan manusia. Ketika seseorang terpengaruh oleh hasrat untuk menumpuk kekayaan dan kekuasaan, kepentingan orang lain seringkali dikesampingkan, dan mereka tidak segan-segan menggunakan cara-cara yang tidak sesuai norma untuk mencapai tujuannya.
Mutohharun Jinan, seorang pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, menekankan bahwa sifat tamak ini bukan hanya merugikan individu, tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan sosial yang lebih luas. Tindakan korupsi, penipuan, dan perampokan adalah contoh konkret dari perilaku yang muncul akibat ketamakan.
Dalam penjelasannya, Jinan menyatakan bahwa tamak adalah sikap rakus terhadap hal-hal material tanpa mempertimbangkan batasan halal dan haram. Sifat ini dapat menimbulkan perasaan dengki, hasad, hingga konflik antar individu atau kelompok. Ironisnya, orang yang tamak kerap berharap mendapatkan bantuan dari orang lain, namun enggan untuk berbagi.
Lebih jauh, Jinan mengungkapkan bahwa individu yang terjerat sifat ini tidak pernah merasa cukup dengan harta yang dimiliki. Mereka sulit untuk bersyukur karena selalu merasa bahwa kekayaan yang ada masih kurang. Dalam konteks ajaran Islam, sifat ini merujuk pada istilah al-hirshu atau ath-thama’u, yang berarti keinginan tak terbatas untuk memiliki lebih banyak tanpa memedulikan hak-hak orang lain.
Rasulullah SAW juga pernah mengingatkan tentang bahaya ketamakan melalui sebuah hadis yang menunjukkan betapa besarnya ambisi manusia terhadap harta. Dalam hadis tersebut, beliau menggambarkan bahwa meskipun manusia memiliki dua lembah emas, keinginan untuk memiliki lebih banyak tidak akan pernah ada habisnya. Dengan menyoroti sifat tamak, masyarakat diimbau untuk introspeksi dan memperhatikan pentingnya berbagi dan menghargai hak-hak sesama.