Monotoneminimal.com – Indonesia optimistis dapat mencapai target net zero emission (NZE) pada tahun 2060 berkat sinergi yang kuat antara kebijakan teknis pemerintah dan dukungan legislatif. Hal ini disampaikan oleh Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha Widya Putra dalam pertemuannya dengan Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno di Jakarta pada Kamis.
Satya Hangga menjelaskan bahwa kolaborasi antara eksekutif dan legislatif sangat penting untuk mengarahkan regulasi di sektor migas dan mempercepat adopsi energi baru dan terbarukan (EBT). Dia menekankan bahwa Indonesia berada di titik kritis dalam peta jalan energi nasional yang memerlukan keseimbangan antara kebijakan teknis dan landasan hukum.
Eddy Soeparno juga menggarisbawahi bahwa perubahan di sektor ESDM bukan hanya masalah teknis, tetapi juga merupakan keputusan politik strategis yang memerlukan dukungan legislatif yang kuat. Melalui Komisi XII DPR, legislator sedang mendorong penguatan regulasi terkait sektor ini, termasuk pembahasan RUU Migas yang akan mendukung transisi menuju low carbon dan dekarbonisasi.
Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (EBET) juga dalam proses penyesuaian untuk menyelaraskan kebijakan dengan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Salah satu terobosan yang diusulkan adalah penerapan skema sewa jaringan, yang diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas distribusi listrik dari EBT tanpa membebani sistem nasional.
Meski sejumlah capaian cukup positif, tantangan tetap ada, khususnya di sektor LPG, yang masih mengandalkan impor hingga 76 persen. Kebijakan pengembangan program pengganti seperti dimetil eter (DME) dan jaringan gas rumah tangga menjadi penting untuk diimplementasikan. Pemerintah juga berkomitmen untuk meningkatkan investasi di sektor gas bumi dan optimasi produksi minyak dengan bekerja sama dengan perusahaan global.