Monotoneminimal.com – Indonesia berkomitmen untuk membangun pasar karbon yang berintegritas tinggi guna mendukung target iklim nasional. Hal ini ditegaskan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan dengan Climate Data Steering Committee (CDSC) untuk menguji coba model data karbon yang diusung oleh G20 di sistem nasional.
Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan standardisasi dan transparansi di pasar karbon domestik, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang mengimplementasikan Common Carbon Credit Data Model. Deputi Koordinator Kementerian Pangan, Nani Hendiarti, menjelaskan bahwa langkah ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK), yang mengintegrasikan model tersebut dalam pembangunan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).
“Inisiatif ini diharapkan dapat menyelaraskan pasar karbon dalam negeri dengan praktik terbaik global, meningkatkan kepercayaan investor, serta membuka peluang pembangunan berkelanjutan,” ujar Nani. Mary Schapiro, Ketua CDSC, mengemukakan bahwa langkah Indonesia menjadi tonggak penting dalam penyediaan data iklim berkualitas tinggi sebagai barang publik global.
Model data karbon diharapkan dapat mengatasi tantangan utama dalam pasar karbon, seperti kurangnya standardisasi yang menghambat transparansi dan akuntabilitas. Dengan kerangka data yang seragam, diharapkan dapat mencegah penghitungan ganda dan memudahkan uji tuntas di pasar.
Uji coba ini merupakan tindak lanjut dari komitmen dalam COP30 di Sao Paulo, Brasil, dalam rangka memperkuat integritas pasar karbon global. Kementerian mencatat bahwa lebih dari 35 yurisdiksi dan pelaku sektor swasta menunjukkan minat untuk mengadopsi pendekatan serupa, dengan harapan menciptakan pasar karbon yang lebih efisien dan menjadi pilar utama pencapaian target penurunan emisi nasional.