Monotoneminimal.com – Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei 2026 mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tematik ini menuntut pergeseran paradigma dalam komunikasi pendidikan di Indonesia, menurut Rimba Mahardika, Humas Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sekaligus praktisi ilmu komunikasi dari Universitas Nasional (Unas).
Pendidikan tidak dapat dilihat sebagai entitas yang terpisah, melainkan sebagai sebuah interaksi kompleks antara guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Saat ini, tantangan besar yang dihadapi adalah perubahan perilaku generasi muda yang dipengaruhi oleh budaya digital dan kecepatan informasi yang terus meningkat. Dengan demikian, perlu dilakukan evaluasi mendalam mengenai relevansi pendidikan di tengah hiruk-pikuk komunikasi digital yang berkembang pesat.
Rimba menekankan pentingnya mengadaptasi pendekatan komunikasi dalam pendidikan agar lebih relevan dengan kebutuhan generasi saat ini. Dalam pandangannya, pendidikan diharapkan menjadi ruang dialog yang dinamis, bukan sekadar monolog dari pengajar. Perenungan ini menjadi mendesak, mengingat adanya fenomena “scrolling culture” yang mengganggu fokus konsentrasi Generasi Z dan Alpha. Metode pengajaran konvensional tidak lagi efektif bagi siswa yang terbiasa dengan komunikasi instan.
Robert Dewantara, dalam semboyannya, menekankan bahwa prinsip partisipatif dan humanis dalam pendidikan sangat penting. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui interaksi sosial. Oleh karena itu, guru harus berperan sebagai fasilitator dan bukan sekadar penyampai informasi.
Dengan demikian, Hari Pendidikan Nasional 2026 menjadi momen reflektif untuk mendiskusikan transformasi komunikasi pendidikan yang relevan dan efektif di era digital ini, demi tercapainya pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat.