Monotoneminimal.com – Rupiah mencatatkan titik terlemahan terbesarnya dalam lebih dari 25 tahun pada penutupan perdagangan 8 Juni 2026, menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dengan penutupan di Rp18.188 per dolar AS. Ini melampaui titik terendah yang tercatat saat krisis moneter 1998 yang berada di kisaran Rp16.850 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia juga mengalami tekanan signifikan.
Faktor eksternal, terutama konflik di Timur Tengah yang mempengaruhi jalur pelayaran energi, turut mendorong harga minyak dunia melonjak hingga 94 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat menjaga kekuatan dolar, mengakibatkan arus modal global tertekan.
Ketidakpastian di dalam negeri juga berkontribusi pada pelemahan rupiah, terlihat dari arus keluar modal yang kian mengkhawatirkan. Investor asing mencatatkan penjualan besar-besaran atas saham dan obligasi pemerintah, dengan total nilai net foreign outflow yang telah melampaui Rp61 triliun hingga awal Juni 2026. MSCI juga mengambil langkah yang mempengaruhi pasar, yakni mengeluarkan enam saham Indonesia dari indeks acuannya.
Sebagai respons, Bank Indonesia (BI) melakukan langkah afirmatif dengan menaikkan BI Rate dari 5,25 persen menjadi 5,50 persen pada 9 Juni, bahkan di luar jadwal rapat reguler. Tindakan ini menghasilkan penguatan nilai tukar rupiah kembali ke kisaran Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS dalam dua hari setelahnya, di samping itu, IHSG pun mencatatkan pemulihan lebih dari 10 persen.
Pakar ekonomi memperkirakan bahwa pasar yang mungkin telah mencapai titik terendah dapat memberikan peluang bagi investor jangka panjang. Kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia diprediksi akan meningkat sejalan dengan pemulihan tersebut, meski risiko yang ada tetap perlu diwaspadai.