Monotoneminimal.com – Keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras pada 2025 menjadi salah satu indikator penting bagi peningkatan kesejahteraan petani. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan hal ini dalam Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada Minggu (18/10).
Zulkifli Hasan mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, Indonesia masih akan mengimpor sejumlah komoditas pangan, seperti beras sebanyak 4,5 juta ton, gula 6 juta ton, dan kedelai 3 juta ton. Namun, pada 2025, negara ini ditargetkan tidak lagi bergantung pada impor beras, sekaligus mencatat surplus produksi sekitar 4,2 juta ton. Pencapaian ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan membantu petani menikmati hasil dari produksi yang meningkat.
“Peningkatan nilai tukar petani dari 116 pada 2024 menjadi 131 pada 2025 menjadi salah satu indikator perbaikan kondisi mereka,” ujar Zulhas. Hal ini menunjukkan dampak positif dari kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani, nelayan, dan peternak, yang berjumlah sekitar 160 juta orang.
Zulhas menekankan bahwa ketergantungan pada impor selama bertahun-tahun dapat menghambat petani dalam mendapatkan manfaat ekonomi yang optimal. Oleh karena itu, keberhasilan dalam memproduksi beras dan jagung merupakan langkah awal untuk menciptakan ekonomi kerakyatan yang lebih kuat.
Dia berharap pencapaian di sektor beras dan jagung dapat menjadi model untuk meningkatkan swasembada di komoditas pangan lainnya, sehingga kesejahteraan petani dan produsen pangan terus meningkat, beriringan dengan konsep kemandirian nasional dalam kebijakan pangan.