Monotoneminimal.com – Kenaikan muka air laut menjadi isu penting yang mengancam wilayah pesisir Indonesia. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mengungkapkan bahwa perubahan ini telah mengubah wajah wilayah pesisir. Dalam Dialog Kebijakan Nasional Kenaikan Muka Air Laut yang berlangsung di Jakarta, Senin, ia menyebutkan bahwa dampak dari perubahan iklim berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan. Dengan 319 kabupaten/kota yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, serta 60% industri nasional yang berlokasi di pesisir, ancaman ini patut diwaspadai.
Data menunjukkan bahwa kerugian akibat perubahan iklim bisa mencapai Rp100 triliun per tahun, dengan proyeksi meningkat menjadi antara Rp1.300 hingga Rp2.000 triliun pada tahun 2029. Jika tidak ditangani, dua pertiga Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) bisa terkuras akibat masalah ini. Khususnya, Jakarta diproyeksikan kehilangan sekitar 186 juta dolar AS per tahun hanya dari risiko banjir dan kerusakan infrastruktur.
Kerugian tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan budaya. Rachmat menegaskan pentingnya memahami bahwa hilangnya pulau-pulau di Indonesia bisa berpengaruh terhadap batas wilayah dan kedaulatan negara. Saat ini, penurunan permukaan tanah terjadi di kisaran 1-20 cm per tahun di lokasi-lokasi seperti Jakarta dan Semarang.
Untuk menghadapi tantangan ini, pemerintah telah merencanakan pembangunan giant sea wall sepanjang 500-700 kilometer di pesisir utara Jawa, dengan biaya estimasi mencapai 80 miliar dolar AS. Langkah-langkah ini merupakan bagian dari strategi luas untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060, dengan penekanan pada pengelolaan air tanah dan rehabilitasi ekosistem pesisir. Dengan berbagai upaya ini, pemerintah berharap dapat melindungi masyarakat dan meningkatkan ketahanan terhadap perubahan iklim.