Monotoneminimal.com – Bencana banjir dan longsor yang baru saja melanda Aceh serta sejumlah wilayah di Sumatra mengakibatkan kerusakan serius pada infrastruktur dan kehilangan mata pencaharian, sehingga memberikan dampak mendalam pada kehidupan sosial, terutama bagi anak-anak. Anak-anak kehilangan rasa aman, rutinitas belajar, dan akses emosional yang penting untuk perkembangan mereka.
Dalam konteks darurat, pendidikan dianggap sebagai intervensi yang menyelamatkan atau “life-saving intervention” yang krusial, memberikan ruang aman dan mendukung pemulihan psikososial anak. Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menunjukkan bahwa 54 sekolah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terpaksa menggunakan tenda darurat akibat kerusakan akibat bencana. Di Aceh, 18 sekolah menggunakan tenda untuk melanjutkan aktivitas belajar.
Di tengah situasi ini, relawan pendidikan berperan vital untuk memastikan proses belajar anak-anak tidak terputus. Mereka tidak menggantikan guru formal, melainkan berfungsi sebagai pendukung yang membantu anak-anak menghadapi trauma serta memotivasi mereka untuk belajar lagi. Relawan harus memiliki altruisme dan profesionalisme, dua kualitas yang saling melengkapi dalam penyampaian pendidikan di kondisi darurat.
Organisasi seperti Yayasan Sukma memberikan pelatihan kepada relawan mengenai prinsip pendidikan dalam keadaan darurat dan keterampilan komunikasi efektif. Mereka dilatih untuk mampu beradaptasi dengan kebutuhan lokal dan menjalin kerja sama dengan pihak terkait. Melalui kolaborasi ini, relawan menjadi mitra pemulihan, membantu membangun kembali masa depan anak-anak.
Hadirnya relawan pendidikan di sekolah darurat menyiratkan komitmen untuk menjaga hak anak atas pendidikan, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun. Diperlukan dukungan sistemis agar relawan dapat beroperasi dengan optimal dalam memulihkan hak belajar dan masa depan anak-anak pascabencana.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1769358848_32b7f46a3fd5834310a6.jpg)