Monotoneminimal.com – Teheran menjadi saksi perdebatan mengenai kemampuan Presiden AS Donald Trump dalam menciptakan perdamaian, yang dikemukakan oleh Abdullah al-Shayji, profesor ilmu politik di Universitas Kuwait, dalam sebuah forum di Doha. Menurut al-Shayji, Trump lebih menginginkan posisi sebagai “pemimpin acara” ketimbang pemimpin perdamaian yang otoritatif.
Al-Shayji juga mengungkapkan bahwa langkah-langkah Trump dalam membentuk Dewan Perdamaian tidak menunjukkan legitimasi. Ia menyoroti bahwa kolaborasinya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang saat ini tengah menghadapi penyelidikan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), menunjukkan ketidakseriusan Trump dalam mencapai solusi damai.
Selanjutnya, al-Shayji menegaskan bahwa percuma mencari perdamaian saat AS bersiap untuk berperang, sementara Trump terus mengancam pihak-pihak lain dan membangun aliansi dengan pemimpin yang kontroversial seperti Netanyahu. Dia menekankan bahwa negosiasi harus menjadi fokus utama jika ingin menciptakan perdamaian yang berkelanjutan.
Di sisi lain, Hassan Ahmadian, profesor ilmu politik di Universitas Teheran, mengindikasikan bahwa adanya potensi negosiasi mengenai program nuklir Iran bisa membuka jalan bagi kesepakatan. Ia menyatakan bahwa Iran bersedia membicarakan batasan pada program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi yang diperkenalkan oleh AS.
Ahmadian menekankan bahwa tanpa terciptanya diskusi yang serius tentang kesepakatan nuklir, segala upaya untuk menciptakan kondusifitas tidak akan membuahkan hasil. Dengan demikian, masa depan hubungan internasional dan keamanan regional sangat bergantung pada kesediaan kedua belah pihak untuk melibatkan diri dalam negosiasi yang konstruktif.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/mengapa-trump-tidak-bisa-menciptakan-perdamaian-ketika-armada-as-siap-perang-lok.jpg)