Monotoneminimal.com – Strategi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam meningkatkan realisasi pendapatan dan belanja daerah melalui insentif fiskal dianggap sebagai langkah yang tepat dan strategis. Kebijakan ini diharapkan dapat memacu pemerintah daerah (pemda) untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) secara optimal, terutama dalam konteks ketatnya efisiensi Transfer ke Daerah (TKD).
Analis politik dari Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, mengemukakan bahwa skema insentif fiskal berpotensi memacu iklim kompetisi yang sehat antar pemda. Namun, ia mengingatkan pentingnya penilaian yang tidak hanya berfokus pada tingkat serapan anggaran. Wibowo menekankan bahwa belanja harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi aspek administratif.
Kritik yang sama disampaikan oleh Ricky Ekaputra Foeh, dosen Administrasi Bisnis Universitas Nusa Cendana. Dia menyatakan bahwa kebijakan insentif fiskal yang diinisiasi oleh Mendagri merupakan respons yang rasional terhadap potensi pelambatan ekonomi. Menurutnya, pemda perlu memastikan bahwa belanja yang dilakukan tidak sekadar untuk memenuhi laporan anggaran, tetapi untuk memberikan manfaat yang substansial bagi penduduk.
Dengan langkah strategis ini, diharapkan pemda dapat lebih proaktif dalam mengelola anggaran mereka, sehingga bisa memperkuat ekonomi daerah dan memberikan dampak positif kepada masyarakat secara keseluruhan. Kebijakan ini menjadi sangat penting mengingat tantangan ekonomi yang dihadapi saat ini, dan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif dan produktif di level daerah.