Monotoneminimal.com – Dalam sebuah acara buka puasa bersama di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqofah Jakarta, Prof. KH. Said Aqil Siradj, MA, menyampaikan bait syair yang membangkitkan refleksi tentang visi dan karakter pesantren. Suasana hangat diisi oleh santri, alumni, dan tamu undangan, menguatkan nuansa kebersamaan di bulan suci Ramadan.
Bait syair tersebut, yang berasal dari karya klasik “Ta’lim al-Muta’allim Thariq al-Ta’allum” oleh Syekh al-Zarnuji, menekankan hubungan antara ambisi seseorang dan cara mereka memandang tantangan. Dalam penjelasannya, Syekh Ibrahim bin Isma’il mengungkapkan bahwa individu dengan cita-cita kecil akan melihat hambatan-hambatan besar di sekitarnya. Sebaliknya, individu yang memiliki cita-cita tinggi akan memanfaatkan tantangan sebagai peluang.
Lebih jauh, pemikiran ini menggarisbawahi pentingnya cara pandang dalam pendidikan pesantren. Sistem pendidikan di pesantren tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga membentuk perspektif santri terhadap kehidupan dan cita-cita mereka. Hal ini menjadi landasan bagi kemajuan dan perkembangan para lulusannya di masa depan.
Acara tersebut menjadi momentum untuk membahas peran visi sebagai DNA dari pesantren. Dalam konteks ini, visi bukan hanya sekadar tujuan, melainkan juga menentukan karakter dan sistem yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Pesantren, sebagai organisme hidup, memiliki keunikan dalam mengembangkan jaringan dan sistem imun yang melindungi dari berbagai ancaman eksternal.
Dengan demikian, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai lembaga yang membangun generasi dengan cita-cita besar, mampu bersaing dan berkontribusi di masyarakat.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/visi-besar-dan-organisme-pesantren-refleksi-dari-bait-syair-abu-thayyib-fbb.jpg)