Monotoneminimal.com – Projo, organisasi relawan yang mendukung Presiden Joko Widodo, mendapat kritik tajam dari aktivis 98, Yulian Paonganan, yang menyebutnya sebagai relawan semu. Ongen, sapaan akrabnya, menyampaikan pendapat tersebut dalam konferensi pers yang berlangsung pada Selasa (25/8/2026) di Jakarta.
Ongen menilai Projo tidak memiliki gerakan politik yang jelas dan hanya muncul kembali saat momentum politik menghangat. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan Projo sulit dipisahkan dari dinamika politik kekuasaan, karena aktivitas mereka cenderung berfokus pada mobilisasi politik daripada tindakan kerelawanan yang konsisten. “Projo itu relawan semu. Ramai ketika ada kepentingan politik, setelah itu tidak jelas arahnya,” ungkapnya.
Kritik tersebut dilontarkan di tengah sorotan terhadap Projo yang selama ini dikenal sebagai pendukung Jokowi. Ongen bahkan menyatakan bahwa Projo memiliki kesamaan dengan istilah “kabinet bayangan”, merujuk pada istilah yang sebelumnya digunakan oleh Feri Amsari dan rekannya untuk menggambarkan pengaruh kelompok di luar struktur pemerintahan dalam politik.
Ongen menegaskan bahwa meskipun Projo tidak secara formal bagian dari kabinet pemerintahan, kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan membuat batas antara gerakan relawan dan kepentingan politik menjadi kabur. Hal ini mengundang perhatian terhadap keberadaan serta peran Projo dalam dinamika politik yang sedang berlangsung di Indonesia.
Kritik ini muncul dalam konteks menjelang tahun politik, di mana banyak organisasi relawan serupa diharapkan dapat menunjukkan keberpihakan dan totalitas dalam mendukung visi dari para pemimpin yang mereka dukung.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/aktivis-98-projo-relawan-semu-ramai-ketika-ada-kepentingan-politik-xkn.jpg)