Monotoneminimal.com – Prepegan menjadi tradisi penting di masyarakat Jawa, khususnya di kawasan Pantura, yang berlangsung satu hingga dua hari sebelum Lebaran. Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri, warga, terutama kaum ibu, memadati pasar untuk membeli sejumlah kebutuhan, seperti selongsong ketupat, yang digunakan untuk memasak ketupat yang disajikan setelah Salat Idul Fitri.
Di Kabupaten Brebes, pasar-pasar seperti Pasar Induk Brebes menjadi pusat aktivitas Prepegan. Selain membeli selongsong ketupat jadi, warga juga menemukan pedagang yang menawarkan jasa pembuatan selongsong ketupat secara langsung. Budayawan setempat, Atmo Tan Sidik, menjelaskan bahwa Prepegan memiliki dua fase, yaitu Prebegan Cilik yang dilakukan pada H-2 dan Prebegan Gede pada H-1.
Selongsong ketupat yang dibeli akan diisi dengan beras dan diolah menjadi ketupat atau lepet. Makanan ini bukan hanya hidangan tradisi, melainkan juga memiliki makna simbolis yang dalam, yaitu pengakuan kesalahan dan upaya meminta maaf. Tradisi menyantap ketupat pada saat Lebaran sudah ada sejak abad ke-15, zaman Sunan Kalijaga, dan kini juga ditemukan di negara-negara lain seperti Brunei, Malaysia, dan Filipina.
Yayah, salah seorang warga Brebes, mengungkapkan kebahagiaannya menyambut Lebaran, di mana keluarga dari berbagai daerah berkumpul. Momen ini menjadi kesempatan untuk menyantap ketupat bersama, menandakan keakraban dan kerukunan dalam keluarga.
Dengan meningkatnya pembelian bahan makanan segar, janur ketupat, hingga pakaian, tradisi Prepegan mencerminkan kekompakan masyarakat dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Aktivitas ini bukan hanya sekadar persiapan, tetapi juga menumbuhkan rasa persatuan di kalangan warga.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1773993461_08276163ebac7b001234.png)