Monotoneminimal.com – Penerbangan komersial di Bandara Rendani Manokwari, Papua Barat, kembali normal pada hari Senin, 5 Oktober, meski kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda daerah tersebut. Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani, Herman Sujito, menyatakan bahwa hanya ada dua penerbangan hari ini, dan kondisi jarak pandang cukup baik untuk pendaratan.
Sebelumnya, pada Sabtu (3/10) dan Minggu (4/10), seluruh penerbangan dibatalkan karena kabut asap yang mengurangi jarak pandang pilot. Penerbangan dari Jayapura yang seharusnya mendarat di Manokwari sekitar pukul 12.00 WIT harus dialihkan ke Ambon akibat jarak pandang yang hanya 500 meter. Situasi serupa juga terjadi pada penerbangan sore harinya, yang terpaksa mendarat di Sorong.
Tidak hanya penerbangan dari Jayapura yang terpengaruh, penerbangan dari Sorong, Nabire, dan Kaimana pada hari Minggu juga dibatalkan, mengingat jarak pandang hanya mencapai 3 kilometer. Terkait kondisi ini, Danang Tri Soesilo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Papua Barat, menjelaskan bahwa kabut asap di Manokwari diperparah oleh karhutla di Provinsi Papua Selatan dan Papua Nugini.
Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa per 3 Oktober terdapat 2.658 titik panas di Papua Selatan dan 1.294 titik panas di Papua Barat. Keberadaan titik-titik panas ini berkontribusi pada peningkatan konsentrasi asap di atmosfer, yang mempengaruhi aktifitas penerbangan dan kesehatan masyarakat. Upaya pemadaman serta mitigasi dampak karhutla terus dilakukan oleh pihak terkait agar situasi dapat segera pulih.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/FotoJet-9.jpg)