Site icon monotoneminimal.com

Pemerintah Akselerasi Usaha Swasembada Garam Nasional

[original_title]

Monotoneminimal.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya keras untuk mewujudkan swasembada garam nasional dengan mengembangkan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam industri yang selama ini mendominasi pemenuhan kebutuhan nasional.

Pembangunan K-SIGN merupakan bagian dari kebijakan strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan garam dan memenuhi target swasembada garam pada tahun 2027, mengikuti Peraturan Presiden No. 17/2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional. Mengingat kebutuhan garam nasional yang terus meningkat, KKP mencatat bahwa pada 2024, kebutuhan ini diperkirakan mencapai sekitar 4,8 juta ton, dengan lebih dari 55% di antaranya masih bergantung pada impor.

Indonesia, yang merupakan negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, memiliki potensi besar dalam produksi garam. Pembangunan K-SIGN diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi tetapi juga menjadi simbol kemandirian dan keberlanjutan masyarakat pesisir.

KKP menekankan pentingnya garam sebagai komoditas strategis, yang digunakan dalam berbagai sektor seperti pangan, industri kimia, manufaktur, kesehatan, dan farmasi. Terkait dengan dampak lingkungan, KKP memastikan pembangunan akan berjalan sesuai dengan ketentuan lingkungan yang berlaku dan memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir.

Sebagai bukti komitmen perlindungan lingkungan, KKP telah melakukan penanaman mangrove seluas 24 hektare pada 2025 dan merencanakan penanaman tambahan seluas 100 hektare di Rote Ndao. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam setiap tahap pembangunan juga menjadi prioritas, dengan harapan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. KKP optimis bahwa K-SIGN dapat mewujudkan swasembada garam dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Exit mobile version