Monotoneminimal.com – Dewan Perdamaian Gaza yang baru saja diumumkan oleh Gedung Putih kini menjadi sorotan, terutama mengenai keanggotaan anggotanya yang dianggap tidak mencerminkan representasi rakyat Palestina. Kritikus menilai, kehadiran anggota dewan yang mayoritas warga Amerika Serikat menegaskan pandangan bahwa rencana tersebut lebih menyerupai solusi kolonial daripada pendekatan damai yang otentik.
Anggota Dewan Perdamaian ini dibagi menjadi dua badan, yaitu “Dewan Eksekutif Pendiri” yang fokus pada investasi dan diplomasi, serta “Dewan Eksekutif Gaza” yang mengawasi kegiatan kelompok administratif di lapangan. Meski diharapkan memberikan dampak positif, ironisnya, tidak satu pun anggota yang berasal dari kalangan Palestina. Dewan ini dipimpin oleh Dr. Ali Shaath, seorang insinyur sipil yang sebelumnya menjabat sebagai menteri dalam Otoritas Palestina.
Salah satu nama yang memicu kontroversi adalah mantan Perdana Menteri Inggris Sir Tony Blair, yang kini terlibat dalam Dewan Eksekutif Pendiri. Keterlibatannya memicu kritik dari berbagai pihak, termasuk politisi Palestina Mustafa Barghouti, yang khawatir bahwa Blair dapat mengganggu integritas dewan. Dari tujuh anggota yang terpilih, enam orang merupakan warga negara AS, termasuk tokoh-tokoh penting seperti Marco Rubio dan Jared Kushner.
Sejumlah pertanyaan masih menggantung, termasuk siapa saja yang kemungkinan akan ditambahkan ke dalam dewan ini, dan bagaimana struktur organisasi akan beroperasi. Masyarakat Palestina menantikan kejelasan mengenai apakah inisiatif ini benar-benar akan membawa perubahan yang berarti atau justru menambah ketidakpuasan terhadap situasi yang sudah ada.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/mengapa-namanama-besar-di-dewan-perdamaian-gaza-hanya-melegitimasi-status-kolonial-ryz.jpg)