Monotoneminimal.com – Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya dianggap sebagai langkah strategis untuk memperkuat daya saing pariwisata Bali. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan akan berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan dan sektor pariwisata Indonesia. PSEL ini direncanakan memiliki kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.400 ton per hari, dengan estimasi pengerjaan selama 18 bulan, dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.
Pembangunan ini merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, serta merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat infrastruktur pengelolaan sampah. Selain memberikan solusi berjangka panjang, proyek ini diharapkan menjadi contoh model pengembangan ‘waste to energy’ untuk daerah lain.
Perkembangan PSEL dimulai dengan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) yang menunjukkan komitmen percepatan proyek. Danantara Indonesia juga diharapkan memperkuat kerjasama pemerintah untuk mendukung infrastruktur nasional. Data dari Pemerintah Provinsi Bali menunjukkan, pada 2025, Bali akan menerima lebih dari 16 juta wisatawan dan sektor pariwisata berkontribusi lebih dari 65 persen terhadap perekonomian daerah, menghasilkan devisa sekitar Rp176 triliun.
Namun, timbulan sampah di Bali mencapai 3.500 ton per hari, menjadikan penguatan sistem pengelolaan sampah semakin mendesak. Zulkifli Hasan menekankan, keberhasilan proyek ini akan menjadi contoh bagi daerah lainnya dalam kolaborasi yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Selain Denpasar Raya, pembangunan PSEL di Kota Bekasi dan Bogor Raya 1 juga akan segera dilaksanakan sebagai bagian dari strategi nasional pengelolaan sampah.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1000168212.jpg)