Monotoneminimal.com – Kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam pengembangan energi nuklir melalui skema government to government (G to G) mendapat dukungan dari Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya. Dukungan ini khususnya dirapatkan dalam kerangka Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST).
Dalam pernyataannya, Bambang menyebutkan bahwa pertemuan dengan Konselor untuk Urusan Ekonomi Kedutaan Besar AS di Jakarta, Jonathan Habjan, baru saja berlangsung. Habjan memberikan gambaran mengenai program FIRST yang bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan teknologi nuklir dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa program ini bukanlah proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir, melainkan langkah awal yang berfokus pada penguatan kebijakan, regulasi, kapasitas kelembagaan, serta pengembangan sumber daya manusia mengenai keamanan dan keselamatan teknologi Small Modular Reactor (SMR).
Bambang mengungkapkan pandangannya bahwa kerja sama ini merupakan peluang strategis bagi Indonesia. Dia berharap bahwa dukungan politik, teknologi, dan pendanaan dari mitra internasional dapat terealisasi agar pengembangan teknologi nuklir di Indonesia dapat dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Pengembangan SMR juga telah diintegrasikan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025-2034, mempertegas bahwa kerja sama ini memiliki dasar perencanaan yang jelas.
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) untuk pengembangan SMR sedang dilakukan di Kalimantan Barat oleh NuScale. Dalam menjalankan proses ini, Komisi XII DPR RI menegaskan komitmen untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas demi keselamatan publik dan perlindungan lingkungan, sejalan dengan rencana nasional yang ada.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1000434936.jpg)