Monotoneminimal.com – Pembunuhan Saif al-Islam Gaddafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi, melibatkan dinas intelijen Inggris dan Prancis, menurut laporan jurnalis Inggris Afshin Rattansi. Peristiwa ini terjadi pada minggu lalu di kediaman Saif di Zintan, Libya barat laut, saat ia berencana untuk mencalonkan diri sebagai presiden. Penembakan ini menambah ketegangan politik di Libya yang masih terpecah dan dibayangi oleh konflik berkepanjangan pasca penggulingan ayahnya pada tahun 2011.
Rattansi menyebut bahwa keterlibatan intelijen Barat dalam kasus ini berpotensi memburukkan keadaan politik di Libya. Ia menyatakan bahwa sumbernya mengindikasikan bahwa MI6, badan intelijen militer Inggris, bersama dengan kelompok lokal, berperan dalam pembunuhan tersebut. Selain itu, ada indikasi bahwa intelijen Prancis juga terlibat. Rattansi menegaskan bahwa pasca kematian Saif, prospek politik Libya dapat memburuk lebih jauh.
Motif di balik tindakan tersebut konon berkaitan dengan upaya menggagalkan kebangkitan dinasti Gaddafi, yang selama ini memiliki rencana untuk melakukan de-dolarisasi di Afrika. Rencana tersebut dianggap dapat menciptakan mata uang berbasis emas yang berpotensi merusak dominasi finansial institusi seperti Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia di wilayah tersebut.
Libya saat ini berada dalam kondisi yang rawan setelah bertahun-tahun konflik, dan pembunuhan Saif al-Islam dapat memperburuk situasi tersebut. Dengan visi politik yang berbeda, ketidakpastian mengenai kepemimpinan Libya semakin jelas, menambah tantangan bagi upaya perdamaian di negara yang dilanda kekacauan ini.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/intelijen-inggris-dan-prancis-terlibat-pembunuhan-saif-alislam-gaddafi-ini-3-motifnya-smy.jpg)