Monotoneminimal.com – Kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, bukan karena kurangnya data, tetapi karena data tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Di berbagai daerah, perencanaan dan pelaksanaan program pendidikan sering kali tidak cukup berdasarkan kebutuhan nyata di lapangan, sehingga solusi yang dihadirkan tidak menyentuh akar masalah. Meskipun data seperti Dapodik dan Asesmen Nasional tersedia, banyak di antaranya masih tersimpan sebagai angka tanpa diolah menjadi keputusan yang strategis.
Kemitraan berbasis data muncul sebagai solusi untuk memastikan penggunaan data dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Konsep ini mengedepankan kerja sama antara berbagai lembaga untuk merancang program pendidikan yang efektif, dengan mempertimbangkan data sebagai sumber daya kolektif. Verhulst dan Sangokoya menjelaskan pentingnya kolaborasi: pertama, memfokuskan intervensi berdasarkan fakta; kedua, meningkatkan transparansi; ketiga, mendukung analisis jangka panjang; dan keempat, menyusun kebijakan yang berbasis bukti.
Apa yang terjadi jika data tidak dipergunakan? Beberapa pemerintah daerah masih enggan membuka akses data karena takut dianggap gagal, membuat data hanya berfungsi sebagai catatan administrasi tanpa menjadi solusi. Oleh karena itu, penting bagi semua pemangku kepentingan—sekolah, pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta—untuk bekerja sama dalam memanfaatkan data dengan baik demi perbaikan pendidikan yang lebih efektif.
Data seharusnya tidak hanya dilihat sebagai angka, tetapi juga sebagai narasi kehidupan yang mencerminkan realitas di lapangan. Mendidik bukan sekadar pengumpulan informasi, tetapi merupakan usaha untuk memperbaiki hidup generasi mendatang. Jika data digunakan secara empatik, kualitas pendidikan di Indonesia dapat ditingkatkan secara signifikan, menghadirkan sistem yang lebih manusiawi dan berdaya guna.