Monotoneminimal.com – Transisi energi bersih sedang dilaksanakan di Kamboja, menggambarkan peluang bagi negara tersebut untuk berperan dalam rantai pasok teknologi energi bersih di Asia Tenggara. Mardy Hout, Manajer Kebijakan Energi Bersih di EnergyLab Asia, menyatakan bahwa pengembangan dalam bidang manufaktur komponen, perakitan, dan integrasi sistem baterai dapat menjadi fokus bagi Kamboja.
Dalam diskusi yang dilaksanakan secara daring bersama Institute for Essential Services Reform (IESR) pada hari Senin lalu, Mardy menjelaskan bahwa negara-negara di Asia Tenggara memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam transisi energi dengan memilih segmen rantai pasok yang sesuai dengan kondisi industri dan sumber daya lokal. Ia menekankan bahwa tidak semua negara harus melakukan produksi teknologi energi bersih secara mandiri.
Mardy menyoroti bahwa Kamboja dapat berfokus pada produksi komponen Tier 2, seperti elektronik dan peralatan listrik, yang membutuhkan investasi dan energi lebih rendah. Saat ini, Kamboja telah memiliki 13 fasilitas perakitan, termasuk yang dimiliki oleh BYD, serta mampu merakit lebih dari 250 ribu sepeda motor dalam setahun. Dalam industri tersebut, terdapat juga lima perusahaan Tier 2 yang memenuhi standar ekspor.
Lebih lanjut, Kamboja memiliki potensi untuk mengembangkan sistem integrasi baterai, mendukung pertumbuhan kendaraan listrik serta penyimpanan energi. Mardy merekomendasikan Kamboja untuk memproduksi paket baterai daripada baterai secara utuh, menilai ini sebagai peluang baru yang memiliki potensi besar.
Untuk memperkuat rantai pasok regional, Mardy mendorong negara-negara ASEAN agar menyelaraskan standar kualitas, regulasi perdagangan, serta insentif bagi industri. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan keunggulan setiap negara dan meningkatkan partisipasi negara dengan kapasitas industri yang sedang berkembang dalam proses transisi energi bersih.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1000483236.jpg)