Monotoneminimal.com – Pangeran Diponegoro, pahlawan nasional asal Yogyakarta, pernah tinggal di Jakarta selama 26 hari sebelum diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara. Keberadaan beliau di Batavia, yang menjadi jejak terakhirnya di Pulau Jawa, dimulai pada 8 April 1830, ketika ia tiba melalui Dermaga Pasar Ikan setelah menempuh perjalanan laut dari Semarang.
Pangeran Diponegoro, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin Perang Jawa (1825-1830), tiba di Batavia menumpang kapal uap SS Van der Capellen. Ia didampingi istri, saudara perempuan, ipar laki-laki, dan 16 pengikut setia, meski dalam keadaan demam akibat malaria. Di dermaga, mereka disambut oleh kereta Gubernur Jenderal yang telah bersiap untuk membawa rombongan ke Stadhuis (Balai Kota Batavia).
Kedatangan Pangeran Diponegoro menarik perhatian banyak orang Eropa yang berkumpul di sekitar pelabuhan. Mereka menyewa kapal kecil atau berkerumun di dermaga untuk menyaksikan tokoh perlawanan rakyat ini secara langsung. Dalam catatan seorang pemuda Skotlandia, George Frank Davidson, saat menyaksikan kedatangan sang pangeran, ia menggambarkan ketidakrelan Pangeran Diponegoro memasuki gedung besar yang suram, menggambarkan perasaannya yang mendalam saat menjejakkan kaki di sana.
Keberadaan Pangeran Diponegoro di Jakarta menandai awal dari perjalanan pahitnya dalam pengasingan, yang sekaligus menjadi momen bersejarah dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda di Indonesia. Jejak langkahnya di Jakarta hingga saat ini masih dikenang sebagai simbol perlawanan dan semangat bangsa.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/jejak-terakhir-pangeran-diponegoro-di-tanah-jawa-tinggal-selama-26-hari-di-jakarta-riq.jpg)