Monotoneminimal.com – Hubungan antara ibadah haji dan Iduladha sangat erat, terutama mengingat keduanya dilaksanakan pada bulan Zulhijjah. Hari Iduladha jatuh pada tanggal 10 Zulhijjah, di mana umat Islam disunnahkan melaksanakan salat Iduladha dan menyembelih hewan kurban. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Ahmad Sarwat, Pengasuh Rumah Fiqih Indonesia, yang menegaskan bahwa meskipun tidak semua umat Islam harus menunaikan haji, hubungan antara keduanya tidak dapat dipisahkan.
Pada hari yang sama, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia melakukan ritual penting dalam ibadah haji, yaitu melontar jumrah, setelah sebelumnya berwuquf di Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah. Saat itu, umat Islam di seluruh dunia disunnahkan untuk berpuasa yang dikenal dengan nama puasa Arafah. Ustaz Ahmad menjelaskan bahwa meskipun pada tanggal tersebut jemaah haji tidak diperkenankan berpuasa karena menjalani prosesi wuquf, umat Islam di luar Tanah Suci melanjutkan pelaksanaan puasa.
Secara tempat, kedua ibadah ini dapat dilakukan terpisah. Sementara jamaah haji menjalankan ritual di lokasi suci Makkah, Mina, Arafah, dan Muzdalifah, umat Islam lainnya merayakan Iduladha di mana saja. Penting untuk dicatat bahwa walau jemaah haji tidak diharuskan melaksanakan salat Iduladha, perayaan di luar akan berlangsung seperti biasa.
Di Indonesia, Iduladha sering disebut Lebaran Haji karena perayaannya bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji. Secara etimologis, Iduladha berasal dari bahasa Arab, dengan makna yang berkaitan dengan pengorbanan. Sejarah Iduladha mengacu pada ketaatan Nabi Ibrahim yang siap mengorbankan putranya, Nabi Ismail, sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Peristiwa ini menjadi landasan bagi pelaksanaan kurban oleh umat Islam yang mampu, menjadikan Iduladha lebih dari sekadar sebuah hari raya.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/ibadah-haji-dan-iduladha-apakah-keduanya-saling-berkaitan-rag.jpg)