Site icon monotoneminimal.com

Harga Jagung Gorontalo Naik Drastis Karena Kemarau Panjang

[original_title]

Monotoneminimal.com – Musim kemarau yang berkepanjangan berdampak buruk pada sektor pertanian di Provinsi Gorontalo. Hal ini terindikasi dengan lonjakan harga dan menurunnya kualitas jagung di pasar-pasar tradisional akibat hasil panen yang merosot.

Di Pasar Sentral Kota Gorontalo, para pedagang mulai merasakan dampak tersebut, terutama bagi penjual jagung manis. Salah satu pedagang, Oma Nana, mengungkapkan bahwa harga jagung manis telah naik drastis seiring terbatasnya pasokan. “Dulu dengan Rp10 ribu, pembeli bisa mendapatkan lima tongkol, kini hanya tiga tongkol. Kualitasnya pun menurun karena jagung menjadi kering akibat cuaca panas yang ekstrem,” ujarnya pada Sabtu (25/7).

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada jagung manis, tetapi juga menyasar varietas jagung BISI-2 dan jagung hibrida, yang saat ini dijual seharga Rp10 ribu per liter. Menurut Oma, jagung hibrida paling rentan terhadap kekeringan, karena biasanya ditanam di lahan luas yang jauh dari sumber air.

Tanaman jagung, jelasnya, sangat bergantung pada ketersediaan air yang cukup. Ketika kemarau datang lebih awal, dapat menyebabkan hasil panen mengalami penurunan yang signifikan. Secara teknis, jagung memerlukan waktu sekitar 70 hari untuk siap dipanen, dan risiko gagal panen meningkat drastis jika kekeringan melanda di awal masa pertumbuhan.

Di sisi lain, jagung manis masih memiliki sedikit keunggulan dalam ketahanan produksinya, karena biasanya ditanam di dekat sungai, yang memudahkan akses air. Kondisi kekeringan ini berujung pada penurunan pasokan ke pasar dan mendorong kenaikan harga, menambah beban bagi petani di Gorontalo yang kini menghadapi risiko gagal panen.

Exit mobile version