Monotoneminimal.com – Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 sebesar 4,7 persen, sedikit menurun dari proyeksi sebelumnya yang mencapai 4,8 persen. Dalam laporan “East Asia and Pacific Economic Update” yang dirilis pada Rabu, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan estimasi pertumbuhan untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan hanya 4,2 persen.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menyatakan bahwa prospek ekonomi kawasan dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal, termasuk konflik di Timur Tengah yang berujung pada kenaikan harga energi, serta pembatasan perdagangan di Amerika Serikat yang menambah ketidakpastian kebijakan global. Namun, ada perkembangan positif dari teknologi kecerdasan buatan yang diharapkan dapat memacu pertumbuhan.
Dalam konteks ini, Indonesia dinilai relatif tangguh karena ketergantungan terhadap impor minyak yang lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Laporan tersebut menunjukkan bahwa impor bersih minyak dan gas Indonesia pada tahun 2024 hanya sekitar 1 persen dari produk domestik bruto (PDB), jauh lebih rendah dibandingkan Thailand yang mencapai 7 persen.
Meskipun demikian, dampak dari guncangan global tetap diperkirakan akan mempengaruhi Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat menambah beban fiskal pemerintah melalui subsidi energi, serta menyebabkan tekanan inflasi akibat lonjakan harga pangan dan semikonduktor.
Diharapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat pulih mencapai 5,2 persen pada tahun 2027, didorong oleh investasi yang lebih produktif, proliferasi kredit swasta, serta kebijakan pemerintah yang mendukung industri hilir dan investasi asing. Reformasi di sektor jasa dan penyederhanaan perizinan usaha juga diharapkan meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan potensial di masa mendatang.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2026-04-08-at-20.05.34.jpeg)