Monotoneminimal.com – PIDATO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, memicu perdebatan global. Dalam orasinya yang berdurasi lebih dari satu jam, Trump mengeluarkan berbagai klaim berani mengenai kedaulatan Greenland, aliansi NATO, dan pencapaian ekonomi Amerika Serikat. Namun, beberapa lembaga pemeriksa fakta menemukan ketidakakuratan signifikan dalam pernyataan tersebut.
Salah satu klaim yang mencuri perhatian adalah keinginan Trump untuk menguasai Greenland, wilayah yang saat ini di bawah kedaulatan Denmark. Trump mengklaim AS pernah “mengembalikan” Greenland kepada Denmark setelah Perang Dunia Kedua, tetapi pernyataan ini terbukti tidak akurat secara historis. Menurut keputusan pengadilan internasional 1933, Greenland sudah ditetapkan sebagai bagian dari Denmark.
Selain itu, Trump mengkritisi NATO, menyatakan bahwa AS menanggung hampir 100% biaya aliansi tersebut. Meskipun pengeluaran pertahanan AS merupakan yang terbesar, data menunjukkan porsi AS sekitar 65% pada 2024. Angka 5% yang disebutnya adalah target jangka panjang yang belum tercapai oleh anggota NATO manapun.
Dalam hal energi, Trump meremehkan kemampuan Tiongkok dalam energi terbarukan, padahal negara tersebut adalah pemimpin dunia dalam sektor energi angin, dengan ladang angin terbesar yang dapat terpantau dari satelit.
Trump juga mengklaim Inggris mengambil 92% pendapatan dari minyak Laut Utara, angka yang keliru, karena tentu pajak maksimal yang dikenakan sebenarnya adalah 78%. Terakhir, Trump menyebut adanya komitmen investasi sebesar US$18 triliun untuk AS, namun tidak ada bukti publik yang mendukung klaim tersebut, dengan total investasi baru terdaftar hanya sebesar US$9,6 triliun.
Keterbatasan fakta-fakta dalam pidatonya ini bisa menghambat diplomasi AS di kancah internasional, di mana keakuratan informasi menjadi kunci utama dalam kerjasama antarnegara.