Monotoneminimal.com – Protes besar-besaran di Iran masih berlangsung, dipicu oleh kemarahan warga terhadap kondisi ekonomi yang semakin memburuk. Demonstrasi ini mulai muncul pada akhir Desember, saat mata uang negara tersebut, rial, anjlok terhadap dolar AS. Meskipun pihak berwenang melakukan tindakan keras, gelombang protes kini meluas ke berbagai kota di seluruh negeri.
Pada 8 Januari 2026, sebuah masjid di Teheran dilaporkan dibakar dalam aksi demonstrasi yang melibatkan ribuan orang. Para pengunjuk rasa mengekspresikan ketidakpuasan mereka dengan meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintahan yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Aktivitas ini berlangsung meskipun ada pemadaman internet yang diterapkan oleh pemerintah.
Kondisi ekonomi Iran yang terpuruk, diakibatkan oleh sanksi dari AS dan Eropa terkait program nuklir serta konflik bersenjata dengan Israel yang berlangsung selama 12 hari, memperburuk situasi. Pengunjuk rasa menuntut perubahan dan menginginkan pengunduran diri rezim saat ini. Fasilitas umum menjadi sasaran kemarahan, dan kebakaran sejumlah gedung dilaporkan oleh pihak berwenang dan saksi mata.
Dalam menghadapi aksi protes yang meluas, pemerintah Iran mengancam akan mengambil tindakan tegas terhadap para demonstran. Angkatan bersenjata setempat menyatakan komitmen untuk melindungi infrastruktur strategis. Dalam sebuah pernyataan, Khamenei menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur dan menyebut para pengunjuk rasa sebagai pihak yang berusaha menggoyahkan stabilitas negara.
Ada laporan dari kelompok hak asasi manusia terkait puluhan korban jiwa di antara para demonstran. Dukungan dari luar negeri juga muncul, di mana Menteri Luar Negeri AS menyatakan kekuatan rakyat Iran dan menegaskan bahwa Amerika Serikat siap membantu mereka jika terjadi penggunaan kekuatan oleh pemerintah. Protes ini menggambarkan ketegangan yang semakin meningkat dalam masyarakat Iran, seiring dengan krisis ekonomi yang terus berlanjut.