Monotoneminimal.com – Insiden mengguncang sebuah kebaktian di Cities Church, St. Paul, Minnesota, ketika sekitar 40 pengunjuk rasa anti-ICE (Immigration and Customs Enforcement) menyerbu tempat ibadah tersebut. Aksi demonstrasi ini terjadi pada Minggu pagi dan menciptakan ketegangan antara para pengunjuk rasa dan jemaat serta pendeta gereja. Menurut informasi dari Departemen Kepolisian Saint Paul, laporan tentang gangguan ini sedang diselidiki sebagai tindakan mengganggu ketertiban umum.
Para pengunjuk rasa berfokus pada David Easterwood, pendeta gereja yang juga menjabat sebagai Direktur Kantor Lapangan ICE di St. Paul. Protestan menuntut agar Easterwood segera meninggalkan lokasi, mengekspresikan ketidakpuasan terhadap perannya dalam operasi imigrasi yang dinilai bermasalah. Aktivis Nekima Levy Armstrong menyatakan bahwa peran ganda Easterwood sebagai pendeta dan pejabat ICE tidak pantas, mengingat dampak kebijakan imigrasi terhadap masyarakat setempat.
Menanggapi insiden ini, pemerintah federal, melalui Jaksa Agung Pam Bondi, menyatakan bahwa tindakan intimidasi terhadap umat Kristiani akan ditindak tegas. Asisten Jaksa Agung Harmeet Dhillon mengumumkan penerapan undang-undang FACE, yang melarang penghalangan fisik terhadap hak beribadah. Dhillon mengutuk insiden tersebut sebagai pengabaian terhadap kebebasan beragama.
Ketegangan di Minnesota telah meningkat secara signifikan setelah dilaksanakannya Operation Metro Surge, yang mendatangkan ribuan agen imigrasi ke daerah tersebut. Insiden terbaru ini menambah kekhawatiran di kalangan pemimpin agama, yang menekankan pentingnya gereja sebagai tempat perlindungan. Banyak jemaat kini merasa cemas, bahkan beberapa gereja terpaksa menangguhkan pertemuan untuk menjaga keamanan di tengah ketidakpastian ini.