Monotoneminimal.com – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela berpotensi mempengaruhi Indonesia, meskipun dampaknya saat ini masih dalam skala terbatas, terutama di bidang pasar keuangan dan komoditas. Peneliti Senior Departemen Ekonomi di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menjelaskan bahwa risiko geopolitik bisa meningkat jika ketegangan terus membesar dan mengganggu pasokan minyak dunia.
Deni menambahkan bahwa masalah utama berkaitan dengan kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan negara-negara produsen energi lainnya. Ia khawatir bahwa situasi ini dapat memengaruhi stabilitas harga minyak global. Dengan kembali mengemukanya kesepakatan antara AS dan Venezuela untuk pengiriman 50 juta barel minyak, ketegangan semakin meningkat. Hal ini terkait dengan langkah agresif AS dalam mengamankan kepentingan energinya di tengah ketegangan global yang melibatkan China.
Venezuela, yang memiliki cadangan minyak dan emas yang besar, menjadi fokus persaingan antara AS dan China. Deni mengungkapkan bahwa AS berupaya mengurangi suplai minyak ke China untuk mempertahankan pengaruh dolar AS sebagai mata uang utama di pasar global.
Di tengah ketidakpastian ini, Indonesia memiliki posisi dua sisi. Jika pasokan ke China terhambat, Indonesia berpotensi mengalami dampak negatif, mengingat ketergantungannya yang tinggi pada ekonomi China. Namun, situasi ini juga dapat membuka peluang baru bagi Indonesia dalam memperluas permintaan ekspor komoditas. Meskipun kenaikan harga minyak bisa merugikan Indonesia sebagai net importer, kenaikan tersebut biasanya diikuti oleh lonjakan harga komoditas lain yang menjadi keunggulan Indonesia.
Untuk menghadapi ketidakpastian ini, Deni menekankan pentingnya diversifikasi pasar dan sumber energi agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekonomi China atau AS, sambil menjaga hubungan dengan negara-negara lain seperti Uni Eropa.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/WhatsApp-Image-2026-01-07-at-11.45.12-AM.jpeg)