Monotoneminimal.com – Penurunan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 menarik perhatian, di mana angka terakhir tercatat mencapai US$144,9 miliar, atau sekitar Rp2.631 triliun. Meski mengalami penurunan sebesar US$1,3 miliar dari bulan sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan bahwa kondisi ini belum menunjukkan sinyal melemahnya ketahanan eksternal fundamental negara.
Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa cadangan devisa saat ini masih berada di tingkat yang memadai untuk membiayai lebih dari lima bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Josua menjelaskan bahwa level US$144,9 miliar tersebut masih jauh di atas standar kecukupan internasional.
Namun, ia menekankan pentingnya mencermati penyebab dan kecepatan penurunan cadangan devisa. Untuk itu, ia membagi kewaspadaan dalam tiga lapis: pertama, jika cadangan devisa turun di bawah lima bulan impor, ruang pertahanan nilai tukar rupiah berpotensi menyempit; kedua, jika mendekati empat bulan, kelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil SBN perlu direspons secara kebijakan; dan ketiga, jika mendekati tiga bulan, kondisi dianggap sudah memasuki zona bahaya.
Saat ini, cadangan devisa Indonesia berada di level setara 5,5 bulan impor, sehingga masih dinilai aman. Namun, Josua mengingatkan agar tren negatif ini tidak berlanjut terlalu lama, karena bisa mempengaruhi persepsi risiko di kalangan investor asing. Ia juga menyatakan bahwa penurunan yang terjadi akibat pembayaran utang luar negeri masih dalam kategori risiko terkendali.
Investor, kata Josua, mengamati efektivitas penggunaan cadangan devisa dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar global.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1780907011_35d79dbc47abea78b2cf.jpg)