Monotoneminimal.com – Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian asal Venezuela, Maria Corina Machado, mendapat kecaman dari pejabat Gedung Putih karena pernyataannya mengenai pemilihan umum di negaranya. Dalam sebuah wawancara dengan media, Machado, yang dikenal sebagai pemimpin oposisi dan pendukung intervensi AS, menyatakan bahwa pemungutan suara dapat dilaksanakan dalam waktu sembilan hingga sepuluh bulan.
Ketidakpuasan di antara pejabat pemerintah AS semakin meningkat setelah Machado menyebutkan waktu tersebut. Seorang penasihat anonim dari Gedung Putih menyatakan bahwa komentar Machado membuat mereka merasa “tidak nyaman” dan menuduhnya merusak kemajuan kebijakan yang telah dicapai, termasuk pembebasan tahanan politik dan kerjasama penegakan hukum antara AS dan Venezuela. Penasihat tersebut juga menambahkan bahwa tindakan Machado menunjukkan sifat egois dan bertindak bertentangan dengan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat.
Waktu pemilihan yang diusulkan oleh Machado dinilai tidak realistis oleh beberapa pihak di Gedung Putih. Sumber lain yang dekat dengan pemerintahan menyebutkan bahwa dua tahun lebih tepat sebagai jangka waktu untuk persiapan yang memadai. Menurut mereka, pernyataan Machado menunjukkan ketidakpahamannya terhadap kompleksitas situasi politik di Venezuela.
Situasi ini mencerminkan ketegangan yang terus berkembang antara gerakan oposisi di Venezuela dan kebijakan luar negeri AS. Kebijakan yang telah dijalankan saat ini dikatakan berfokus pada keamanan nasional, menjadikan tindakan individu seperti Machado sebagai faktor pengganggu. Akibatnya, hubungan antara segala pihak yang terlibat semakin diwarnai oleh citra saling tidak percaya dan pergeseran strategi.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/terlalu-sering-menjilat-as-kecam-pemenang-nobel-venezuela-sebagai-perusak-sdr.jpg)