Monotoneminimal.com – Anak-anak Indonesia kini tumbuh dalam dua dunia: ruang nyata dan ruang digital. Fenomena ini dipicu oleh penggunaan gadget yang semakin meluas. Menurut data Badan Pusat Statistik, sekitar 78,63% anak berusia 5–17 tahun telah menggunakan ponsel pada 2024. Bahkan, 35,57% anak berusia 0–6 tahun sudah terpapar internet. Meskipun internet menawarkan berbagai peluang edukatif, risiko seperti cyberbullying dan ketergantungan pada layar juga meningkat.
Para ahli, termasuk UNICEF, menunjukkan tingginya paparan anak terhadap konten negatif di dunia maya. Pendidikan yang berkualitas kini bukan hanya urusan keluarga, tetapi menjadi tanggung jawab publik dalam membentuk generasi muda. Pertanyaannya, apakah kita mendidik anak-anak untuk cerdas di dunia digital, atau membiarkan algoritma yang menentukan pengalaman mereka?
Media sosial dan platform digital dirancang untuk menarik perhatian pengguna, sehingga bukan halangan bagi konten edukatif untuk terseleksi. Akibatnya, anak-anak tidak hanya menggunakan aplikasi, tetapi juga dipelajari oleh aplikasi tersebut, memperburuk ketidakmampuan mereka dalam menyaring informasi.
Menjawab tantangan ini, berbagai regulasi perlindungan anak, seperti PP Nomor 17 Tahun 2025, telah dibuat untuk melindungi anak di ruang digital. Namun, pembatasan akses saja tidak cukup. Disarankan agar anak-anak diberikan alternatif ruang digital yang aman dan mendidik, yang perlu diintegrasikan dengan pengajaran di sekolah.
Kementerian Pendidikan juga telah meluncurkan kebijakan transformasi digital yang menggabungkan teknologi, seperti pemanfaatan AI dan coding, dengan penguatan karakter. Tujuannya adalah menjadikan anak-anak pengguna aktif yang mampu memahami dan memecahkan masalah, bukan hanya menjadi pengguna pasif.
Keluarga sebagai benteng pertama dalam pengasuhan harus berperan aktif dalam mendampingi anak-anak. Literasi digital untuk orang tua menjadi sangat penting dalam membentuk anak-anak agar mampu menghargai etika digital dan bertanggung jawab. Dengan demikian, teknologi seharusnya menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber distraksi.
![[original_title]](https://monotoneminimal.com/wp-content/uploads/1781213341_2554c113e59e3a8ee583.jpg)