Monotoneminimal.com – Air galon isi ulang yang selama ini dianggap sebagai pilihan aman ternyata memiliki risiko kontaminasi bakteri yang lebih tinggi dibandingkan dengan air sumur di Dataran Tinggi Barat, Guatemala. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Washington State University (WSU) ini mengungkap bahwa masyarakat sering kali keliru dalam mempersepsikan keamanan air yang mereka konsumsi.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Water and Health tersebut menguji sebelas sumber air yang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa air kemasan lebih rentan mengandung bakteri coliform, yang menandakan adanya kontaminasi tinja. “Ada kesenjangan signifikan antara keyakinan masyarakat mengenai keamanan air dan kondisi sebenarnya di rumah mereka,” kata Dr. Brooke Ramay, penulis utama studi ini.
Dalam riset tersebut, 60 rumah tangga disurvei dan sampel air diuji untuk mendeteksi bakteri patogen seperti Escherichia coli dan organisme yang tahan terhadap antibiotik. Hasil menunjukkan hanya 17% sampel air kemasan yang memenuhi standar keamanan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan air kemasan enam kali lebih mungkin terinfeksi bakteri coliform dibandingkan sumber lainnya.
Menariknya, air dari sumur yang terlindungi dan diklorinasi justru menunjukkan tingkat kontaminasi terendah, bahkan tidak terdeteksi E. coli. Namun, masyarakat cenderung meragukan keamanan sumber ini. Parahnya, air yang dipipakan ke rumah menunjukkan lebih dari 65% sampel mengandung coliform.
Dr. Ramay menekankan pentingnya perilaku pembersihan yang tepat setelah air dibotolkan. Keyakinan masyarakat terhadap keamanan sumber tertentu mengarah pada pengabaian tindakan higienis yang penting. Temuan ini menggambarkan bahwa kepercayaan terhadap sumber air dapat berkontribusi pada tingkat kontaminasi yang lebih tinggi.