09 April 2026 – Serangan Israel Lebanon kembali menjadi sorotan setelah gelombang serangan udara besar menghantam Beirut, Lembah Bekaa, dan wilayah selatan pada Rabu. Otoritas pertahanan sipil Lebanon melaporkan 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 lainnya terluka, sementara Kementerian Kesehatan menyebut 182 korban jiwa dan menegaskan angka itu belum final. Harapan jeda konflik sempat muncul setelah diumumkannya gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, Israel menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh serangan itu sebagai eskalasi saat Beirut tengah mendorong jalan keluar diplomatik, sedangkan Presiden Lebanon Joseph Aoun menyebut serangan ke area sipil sebagai tindakan barbar. Di Beirut pusat, ledakan dilaporkan menghantam kawasan permukiman dan komersial tanpa peringatan, memicu kepanikan warga dan tekanan baru bagi rumah sakit.
Militer Israel mengatakan lebih dari 100 sasaran Hizbullah diserang dalam waktu sekitar 10 menit, termasuk peluncur rudal, pusat komando, dan infrastruktur intelijen. Di sisi lain, sejumlah pejabat dan warga setempat membantah lokasi yang dihantam merupakan fasilitas militer. Kepala HAM PBB Volker Türk menyebut skala korban dan kerusakan di Lebanon sebagai sesuatu yang mengerikan, serta mendesak penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hukum humaniter internasional.
Perkembangan ini membuat prospek gencatan yang lebih luas di kawasan kembali rapuh. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper pada Kamis menyerukan agar Lebanon ikut dimasukkan ke dalam skema penghentian konflik demi mencegah gejolak regional makin meluas. Di lapangan, tim penyelamat masih mengevakuasi korban dari reruntuhan, sementara warga Lebanon kembali menghadapi ketidakpastian, pengungsian, dan ancaman serangan lanjutan di tengah perang yang belum menunjukkan tanda mereda.
