Monotoneminimal.com – Ketersediaan kedelai nasional di Indonesia dipastikan aman hingga akhir 2026, dengan proyeksi surplus sekitar 290,9 ribu ton meskipun ketergantungan terhadap impor masih signifikan. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Hermawan, dalam konferensi pers di Jakarta pada Selasa.
Berdasarkan Neraca Pangan Nasional Bapanas per 3 September 2026, total ketersediaan kedelai diprediksi mencapai 3,046 juta ton, sementara kebutuhan nasional sekitar 2,755 juta ton. Dengan demikian, stok kedelai diperkirakan aman hingga akhir tahun. Kebutuhan kedelai saat ini mencapai 229,6 ribu ton per bulan.
Namun, Hermawan mengingatkan bahwa struktur pasokan kedelai Indonesia masih sangat bergantung pada impor. Produksi kedelai dalam negeri dijadwalkan mencapai 131,5 ribu ton, sedangkan realisasi impor dari Januari hingga Agustus telah mencapai sekitar 1,920 juta ton, dengan rencana impor tambahan sebesar 750,4 ribu ton untuk sisa tahun ini.
Sebagai respons terhadap masukan perajin mengenai harga, Bapanas akan mengawasi rantai distribusi dan harga dari berbagai pihak, mulai dari importir hingga perajin. Pemerintah juga menetapkan harga acuan pembelian kedelai impor di tingkat perajin maksimal Rp12.000 per kilogram. Saat ini, harga kedelai di sejumlah wilayah Jawa berkisar antara Rp11.200 hingga Rp11.850 per kilogram.
Pemerintah berencana memperkuat Cadangan Kedelai Pemerintah dengan target pengadaan minimal 70 ribu ton pada 2026, guna mengatasi potensi gangguan pasokan atau lonjakan harga. Hermawan menegaskan komitmen untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilitas harga, termasuk kedelai, agar kebutuhan masyarakat dan perajin tetap terpenuhi di masa mendatang.