Monotoneminimal.com – Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan. Program ini mencakup pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot, dan pengolahan sampah non-organik menjadi briket.
Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail, menyebutkan bahwa pengelolaan sampah dilakukan secara bertahap dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, dan lembaga kemasyarakatan. Saat ini, kapasitas pengolahan sampah organik mencapai 400 hingga 500 kilogram per hari, dengan target maksimal satu ton. Dia juga menjelaskan, budi daya maggot dipengaruhi oleh suhu dan faktor lingkungan lainnya.
Selain itu, sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi mengenai pemilahan sampah. Dari jumlah tersebut, sekitar 250 rumah tangga aktif melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri. Untuk mendukung program ini, setiap RW menyediakan sarana pengolahan, dengan minimal dua unit tempat pengolahan berbasis komposter.
Sofian menambahkan bahwa pengolahan sampah non-organik juga dilakukan melalui sistem yang melibatkan enam unit mesin. Proses pengolahan ini dimulai dari pemilahan hingga pencetakan briket, dengan kapasitas yang diproyeksikan mencapai 6 ton per hari jika berjalan optimal. Hal ini diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Kelurahan Sukamiskin juga berkolaborasi dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperluas teknologi pengolahan sampah. Timbulan sampah di kawasan ini diperkirakan mencapai 4 hingga 6 ton per hari, di mana sekitar 30 persen masih dibawa ke TPS. Pengelolaan yang melibatkan sekitar 17 petugas pemilah dan pengolah sampah bertujuan untuk mengedukasi masyarakat serta mendorong pemilahan sampah dari sumbernya.