Monotoneminimal.com – Sebuah studi besar mengungkapkan bahwa separuh terumbu karang di dunia telah mengalami kerusakan yang parah akibat pemanasan ekstrem. Penelitian ini menyoroti dampak “Peristiwa Pemutihan Karang Global Ketiga” yang terjadi antara 2014 hingga 2017, di mana lebih dari 50% terumbu karang mengalami pemutihan yang signifikan, dan banyak yang berujung pada kematian massal.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini dipimpin oleh tim dari Smithsonian dan melibatkan hampir 200 penulis dari 143 institusi di 41 negara. Mereka menggunakan data satelit suhu permukaan laut dan melakukan lebih dari 15.000 survei di lokasi-lokasi terumbu karang. Dalam analisis tersebut, ditemukan bahwa 80% terumbu karang mengalami pemutihan dengan tingkat sedang hingga berat, sementara 15% terumbu karang mengalami kematian yang signifikan.
Terumbu karang, yang berfungsi sebagai ekosistem vital, menyumbang nilai ekonomi sekitar US$9,8 triliun per tahun melalui sektor perikanan, pariwisata, dan perlindungan pantai. Namun, kerusakan yang parah ini menimbulkan ancaman serius bagi keberadaan ekosistem tersebut. Alga mikroskopis yang hidup bersimbiosis dengan karang mengalami gangguan akibat kenaikan suhu laut, sehingga menyebabkan karang memutih dan pada akhirnya bisa mati jika suhu tetap tinggi.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa sejak awal 2023, dunia telah memasuki “Peristiwa Pemutihan Global Keempat,” dan jika tidak ada tindakan nyata untuk menghadapi pemanasan global, ekosistem penting ini akan terancam punah. Pengamat lingkungan menyerukan agar pemantauan dan tindakan konservasi dilakukan secara global untuk menyelamatkan terumbu karang demi keberlanjutan ekonomi dan ekologi di seluruh dunia.